Buku Babad Banyumas
Babad Banyumas merupakan karya sastra tradisional yang menjadi rujukan utama bagi masyarakat untuk menelusuri sejarah, asal-usul, dan silsilah leluhur wilayah Banyumas. Secara umum, naskah-naskah Babad berfungsi sebagai catatan sejarah lokal yang sering kali dikemas dalam bentuk tembang (puisi Jawa) atau gancaran (prosa), mencampurkan unsur sejarah faktual dengan mitos dan legenda. Babad Banyumas sendiri memiliki beberapa versi, seperti Babad Banyumas Wirjaatmadjan yang populer karena ditulis oleh Patih Purwokerto, Raden Wirjaatmadja, atas perintah pemerintah kolonial pada akhir abad ke-19, serta versi-versi lain seperti Babad Banyumas Mertadiredjan dan Babad Banyumas Kalibening yang diyakini sebagai naskah tertua. Keragaman versi ini menunjukkan kekayaan tradisi lisan dan tulisan dalam merekam perjalanan peradaban di tanah Banyumas.
Inti cerita dalam Babad Banyumas biasanya berfokus pada masa transisi kekuasaan, terutama yang terkait dengan Kadipaten Wirasaba hingga berdirinya Kabupaten Banyumas. Kisah-kisah sentral meliputi hubungan daerah ini dengan kerajaan besar seperti Majapahit dan Kesultanan Pajang, serta pergolakan politik dan pembentukan wilayah. Tokoh-tokoh penting yang sering diceritakan adalah Raden Baribin, yang diyakini sebagai keturunan Majapahit dan nenek moyang Adipati Wirasaba, Adipati Marga Utama (Raden Katuhu), serta tokoh pendiri Kabupaten Banyumas, Raden Jaka Kaiman (bergelar Adipati Warga Utama II atau Adipati Mrapat). Kisah heroik, tragedi, hingga pembagian wilayah (misalnya “Adipati Mrapat” yang membagi wilayahnya menjadi empat) membentuk narasi sejarah yang kuat dan menjadi dasar bagi penentuan Hari Jadi Kabupaten Banyumas.