Batik Banyumas merupakan salah satu warisan budaya Jawa yang memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan batik pesisir maupun batik keraton. Coraknya cenderung lebih sederhana, luwes, dan bernuansa alam, sehingga menghadirkan karakter yang hangat dan membumi. Beberapa motif yang paling dikenal antara lain Jahe Srimpit, Pring Sedapur, dan Geblek Renteng, yang masing-masing mengandung filosofi mendalam tentang kehidupan masyarakat Banyumas.

Sejarah Singkat Batik Banyumas
Batik mulai berkembang di Banyumas sejak abad ke-18, dibawa oleh para pendatang dan pedagang dari wilayah Solo dan Yogyakarta. Penyebarannya kemudian meluas ke berbagai desa seperti Sokaraja, Banyumas kota, Sudagaran, hingga Somagede.
Berbeda dari batik keraton yang rumit, Batik Banyumas tumbuh dari keseharian masyarakat sehingga motifnya lebih lugas, organik, dan mengikuti bentuk tumbuhan atau unsur alam di sekitarnya.
Motif-Motif Khas Batik Banyumas
1. Motif Jahe Srimpit
Ciri: bentuk lekukan menyerupai ruas dan akar jahe.
Makna: melambangkan kesehatan, kehangatan, dan keteguhan hati.
Motif ini digunakan masyarakat sebagai simbol harapan hidup yang sehat dan semangat menghadapi tantangan.
2. Motif Pring Sedapur
Ciri: pola batang bambu berulang (“sedapur” = sebatang keluarga).
Makna: mengajarkan tentang persatuan keluarga, kerukunan, dan kekuatan ketika hidup berdampingan.
Motif ini sangat populer untuk seragam keluarga dan acara budaya.
3. Motif Geblek Renteng
Ciri: pola melingkar berantai terinspirasi dari makanan khas Banyumas: geblek.
Makna: melambangkan keuletan, kesinambungan, serta saling terhubung antara manusia dan lingkungan.
Motif ini menjadi ikon baru Banyumas karena bentuknya unik dan mudah dikenali.
Sentra Pengrajin Batik Banyumas
Beberapa lokasi yang dikenal sebagai pusat produksi batik Banyumas antara lain:
1. Sokaraja
Salah satu daerah tertua penghasil batik, terkenal dengan motif klasik dan teknik pewarnaan alami.
2. Banyumas Kota (Sudagaran)
Daerah ini mengembangkan gaya batik “Sudagaran” yang kreatif dan lebih bebas, cocok untuk pasar modern.
3. Somagede
Menghasilkan batik tulis khas pedesaan dengan motif yang sangat naturalis.
4. Kedungbanteng & Baturraden
Para pengrajin di wilayah ini banyak memadukan motif alam pegunungan dan hutan pinus.
Proses Pembuatan Batik Banyumas
Pembuatan batik Banyumas masih mengandalkan teknik tradisional:
-
Nyoret / menggambar pola – menggunakan pensil atau canting.
-
Nglowong – menegaskan garis dengan malam.
-
Nembok – melindungi bagian tertentu dari warna.
-
Pewarnaan alami atau sintetis – banyak pengrajin memakai bahan dari mahoni, jelawe, atau mengkudu.
-
Ngelorod – pelelehan malam dengan air panas.
Setiap proses dapat memakan waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu, terutama pada batik tulis.
Wawancara Singkat dengan Pengrajin Batik (UMKM)
Ibu Siti Rahmawati – Pengrajin Batik Sokaraja
“Setiap motif Banyumas membawa cerita. Misalnya Jahe Srimpit mengingatkan kita pentingnya menjaga kesehatan dan keteguhan. Saya membuat batik tidak hanya untuk dijual, tetapi juga menjaga warisan leluhur. Harapan saya generasi muda tetap bangga memakai batik lokal.”
Beliau juga menekankan bahwa produksi batik Banyumas kini semakin terbantu oleh pemasaran digital, namun kualitas tetap harus dijaga agar batik tulis tidak kalah oleh produk sablon pabrik.
Keunikan dan Keunggulan Batik Banyumas
-
Motif naturalis terinspirasi dari tumbuhan lokal.
-
Warna lebih hangat: coklat tanah, soga, dan hitam.
-
Cocok untuk busana formal maupun kasual.
-
Dibuat dengan teknik tradisional, menghasilkan nilai seni tinggi.
-
Ramah wisata budaya karena pengrajin membuka workshop batik.
Tips Memilih Batik Banyumas Asli
-
Periksa kualitas goresan malam (tidak kaku).
-
Aroma khas pewarna alami biasanya masih terasa.
-
Motif tidak sekaku batik keraton—lebih organik.
-
Warna tidak terlalu mencolok.
-
Beli langsung di pengrajin atau UMKM lokal.
Batik Banyumas bukan sekadar kain, tetapi identitas budaya yang menggambarkan cara hidup masyarakat yang hangat, sederhana, dan dekat dengan alam. Dengan motif khas seperti Jahe Srimpit, Pring Sedapur, dan Geblek Renteng, batik ini terus menjadi kebanggaan daerah dan mendapatkan perhatian luas dari kolektor, wisatawan, hingga pecinta seni.
Melestarikan Batik Banyumas berarti turut menjaga cerita, filosofi, dan kreativitas generasi lokal.